Kampus Tolak Penghinaan Gubernur di Medsos

Iklan 970x250 px

Kampus Tolak Penghinaan Gubernur di Medsos

Kamis, 13 Februari 2020
Foto Wakil Rektor III, UIN Mataram, DR. Hj. Nurul Yaqin,  M.Pd.

MATARAM ,Media Buser Bima -- Kalangan civitas akademika  Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bereaksi terhadap ulah mahasiswa yang cenderung melakukan ujaran kebencian dan provokasi di Medsos dalam setiap menyampaikan pendapat.

Akun akun mengatas namakan mahasiswa UIN dan organisasi ekstra kampus, namun mengangkat konten sara, penghinaan serta ujaran kebencian terhadap pejabat pemerintah menjadi perhatian serius kampus.

" Sebagai Mahasiswa Islam harusnya tabayyun (klarifikasi) sebelum berucap, dan mengutamakan prasangka baik. Mengkritisi dengan data dan kajian terukur," kata, Wakil Rektor (Warek) III bidamg kemahasiswaan UIN Mataram, DR. Hj. Nurul Yaqin, M.Pd, kepada pers, hari ini, Rabu (22/2).

Nurul menegaskan, sebagai insan akademis, mahasiswa wajib mengkritisi dan memberikan masukan karena bagian dari kontrol sosial terhadap pemerintah. Kampus tidak pernah melarang itu. Asalkan sesuai dengan kaidah, tata cara dan kajian serta kepentingan umum. Sesuai ciri insan akademis.

Bukan malah memprovokasi, melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan fitnah yang belum jelas data, tolak ukur dan dasar faktual. Ini menurutnya menjadi perhatian kampus.

"Jadi kita akan membina mahasiswa ini dan menyerukan penolakan terhadap sikap dan aktifitas mahasiswa yang melanggar aturan dan hukum," ujarnya.

Nurul Yaqin memberikan penjelasan soal ini, setelah melihat dan mengamati status di akun atas nama Rizal Mukhlis yang diketahui aktifis HMI Badco dan Mahasiswa UIN. Serta akun akun lainnya.

Meski demikian,  Nurul Yaqin tengah memastikan kembali apakah mahasiswa atas nama foto dan akun tersebut benar benar mahasiswa UIN.

"Saya akan cek dan memanggil mahasiswa ini jika benar, dan kita bina dan mediasi agar tidak melakukan upaya melanggar hukum serta etika moral dan sosial. Intinya kita segera respons ini," katanya lagi.

Nurul berpendapat, ujaran kebencian kerap dilayangkan kepada Gubernur NTB, Zulkieflimansyah oleh akun akun mengatas namakan mahasiswa dan kader organisasi ekstra kampus memang menjadi perhatian kampus sendiri.

"Menurut saya, Gubernur NTB adalah sosok yang humble. Bang Zul memang kerap kali  menghadiri acara di UIN Mataram. Beliau terbuka dan praktisi juga. Jadi saya heran jika ujaran kebencian dialamatkan terhadap doktor Zul, " akunya.

Masri Aprian, Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ro'yuna UIN Mataram, juga menolak aktifitas Mahasiswa yang jauh dari ajaran kampus. Ia merasa, aksi mahasiswa yang melakukan ujaran kebencian dan fitnah di medsos justru merugikan citra kampus.

 "Insan akademis itu harus memiliki kosakata yang pantas, dan tidak menjerumuskan informasi ke hal hal yang fiktif dan diluar kepentingan umum. Apalagi mengumbar sensifitas pribadi dan kelompok, yang negatif," kritiknya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadyah (IMM) Cabang Sumbawa Barat, Hardoni Odon, mengutuk keras sikap aktifis ekstra kampus yang mengaku kader organisasi dan mahasiswa, namun sikapnya justru bertentangan dengan etika dan standar pemikiran akademis.

"Kita menolak segala bentuk praktik negatif menyampaikan pendapat di muka umum yang melanggar hukum, etika dan moral. Memfitnah orang dan pejabat publik tidak dengan dasar dan kajian. Seolah memframing dan membunuh karakter pejabat tanpa dasar," kata Hardoni, keras.

Atas nama  kader IMM ia meminta Polda NTB melakukan penelusuran dan penegakkan hukum atas akun akun yang menyebar hoax, fitnah dan ujaran kebencian. Apalagi mengaku ngaku mahasiswa.

" Polisi harus mencegah ini dan menindak tegas secara hukum jika mahasiswa dan organisasi ekstra kampus yang justru menjadi biang profokasi dan intimidasi. Kita menolak keras ini. Polri dan kampus serta kita semua wajib meluruskan dan menangkal ini," demikian, Hardoni Odon.

TIM BUSER BIMA