Acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW .1441 H/2019 M Tingkat Kota Bima

Iklan 970x250 px

Acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW .1441 H/2019 M Tingkat Kota Bima

Minggu, 24 November 2019

Walikota Bima Pada Saat Sambutan Acara Maulid 
Kota Bima.Media Buser Bima .Acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW .1441 H/2019 M Tingkat Kota Bima.pada pukul 20.30 wita Di Kediaman Walikota Bima H.Muhammad Lutfi SE. Kelurahan Raba Dompu Barat,Kota Bima,NTB Nusa Tenggara Barat.Saptu ( 23/11/2019 )

Dalam Acara Ini Dihadiri Ketua PHBI Kota Bima, pimpinan Ponpes Al Husaini, H Ramli M.Ap, Wakil Wali Kota Bima, Ferry Sofian SH,  Ketua PKK Kota Bima, Hj Ellya HM Lutfi, Sekda Kota Bima, Drs H Muhtar Landa MH, pimpinan DPRD Kota Bima, sejumlah kepala OPD lingkup Kota Bima, Kasdim 1608/Bima, Mayor Inf. Hardani, tokoh agama, tokoh pemuda, GP Anshor Kota Bima dan sejumlah OKP.Pantau langsung awak media buser bima amir reynal

” Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dimeriahkan penampilan group marawis dan jawara haflah dari Kota Bima “
  

Pada momentum ini, Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi SE menjelaskan komitmen Pemerintah kota Bima terhadap pembangunan Masjid Raya Al Muwahiddin Kota Bima dan pembangunan karakter.

"Kita bersyukur diberikan nabi akhirul zaman. Pemeritah kota Bima mencanangkan maulid nabi, tidak hanya seremonial dan begitu juga hari hari besar yang dilaksanakan. Perayaaan adalah sebagai bentuk syukur kita sebagai umat Islam," kata Wali Kota Bima di hadapan ratusan pejabat lingkup Pemerintah kota Bima, masyarakat, alim ulama, anggota legislatif yang hadir,”ujarnya

Walikota Menegaskan,”Pemerintah kota Bima di bawah kepemimpinan Lutfi-Feri berkomitmen melaksanakan program yang telah dicanangkan atau visi misi. Di antaranya meliputi visi sejahtera, transparan, aman, ramah dan agamais. "Kenapa agamais dijadikan ujung menjadi tujuan yang akan kita raih. Ini dilakukan pemerintah Lutfi-Feri,"Tegasnya

Mantan anggota DPR RI ini menjelaskan,”Pemerintah kota Bima kembali mencurkan alokasi anggaran untuk masjid raya, dari sebelumnya Rp10 miliar menjadi Rp25 miliar. Ditegaskannya, Pemeritah kot Bima komit atas pembangunan masjid raya,”jelasnya

"Akhirnya kita luncurkan kembali anggaran 10 miliar menjadi 25 miliar. Target Pemkot Bima bukan 30 miliar, tetapi 36 miliar. Masjid raya menjadi ikon Kota Bima. Tidak hanya masjid raya saja, tetapi masjid masjid lain yang sudah diawali swadaya saya berikan bantuan 700 juta seperti masjid di Tanjung, demikian juga masjid masjid di kampung. Semua yang kita canangkan dalam visi misi kita laksanakan. Instrumen MUI, komitmen pemerintah dengan memberikan anggaran satu miliar," katanya.

Dijelaskan H Lutfi, alokasi anggaran dan perhatian Pemkot Bima terhadap eksistensi MUI tidak hanya untuk kegiaran ceramah, namun diharapkan menyisipkan materi materi pembentukan karakter melalui khatib khatib masjid. Menyisipkan pesan moral, termasuk di dalamnya tentang zakat. Selai itu, juga dibuatkan buletin.
"Saya yakin masyarakat kita kalau mendengar khutbah dia mengatuk. Dia dapat membawa buletin. Kita juga melaksanakan festival Zakat yang akan dilaksanakan BAZNAS, memberikan dan membagikan zakat kepada masyarakat," katanya.

Selain itu, berkaitan lantunan lantunan musik yang agamais (marawis) pada kalangan muda mau mulai diterima, salah satu bentuk memuji Allah SWT.

"Demikian juga perilaku. Penceramah memberikan pemahaman Islam yg kaffah. Perjalanan yang terberat Rasulullah adalah perjalanan mengubah ahlaq.  Satu tujuan manusia di bumi ini, jawabannya sebagai khalifah di muka bumi ini, merawat muka bumi ini. Budaya yang lahir di Kota Bima tidak terlepas dari nafas nafas islam. Karena sejarahnya dari kesultanan Bima," ujarnya.

Wali Kota Bima juga menjelaskan komitmennya, membuat program yang transparan, melalui sistem yang terbuka, melalui command center. "Walaupun anggaran besar, Rp10 miliar. Tapi akan membawa dampak yang baik buat masyarakat, apapun keluhan masyarakat/ rakyat akan dilihat langsung wali kota. Jangan  sampai kita beritakan RT RW tanpa sarana. Maka waktu demi waktu kita memperbaiki sistem yang ada," ujarnya.

Diceritakannya, pengalaman saat berkunjung ke Banyuwangi. Daerah tersebut hampir sama dengan Bima. Awalnya semrawut dan kotor selokannya.
 

"Lalu saya tanya bupati mengubah selokannya bersih. Jangan perilaku masyarakat diubah, tapi perilaku birokrasinya. Kalau masyarakat memiliki kepercayaan terhadap pemerintah. Semuanya menggerakkan sektor ekonomi, ada wisata halal, selokannya bersih, tidak ada barang hamar. Sama dengan di Bima, Perda kita tidak diberlakukan,  banyak masyarakat memperjual belikan Miras. Makanya Banyuwangi dengan bangganya tanpa khamar. Bisa dengan kebersihannya," katanya.

"Kota Bima juga elok, dengan keindahan teluknya,gunung nya agar wisatawan bisa betah di bima dan mari kita  menjaga lingkungan (penting). Budaya kita harus tanamkan dari generasi pelajar," tambahnya,”tutupnya

Amir Reynal BB 01