Dihuni Ribuan Ular Jinak, Pulau Ular Menjadi Destinasi Wisata Terunik

Iklan 970x250 px

Dihuni Ribuan Ular Jinak, Pulau Ular Menjadi Destinasi Wisata Terunik

Kamis, 08 Agustus 2019
Republiktoday.com

Pulau Ular yang berada di Desa Pai, Kecamatan Wera-Bima, dihuni oleh ribuan ular jinak.

BIMA-.Pulau yang satu ini mungkin belum terlalu banyak yang mengunjunginya. Pulau Ular, pulau yang dihuni oleh ratusan bahkan ribuan ular jinak yang mengagumkan, hidup disatu pulau yang tak terlalu besar layaknya seperti kapal dagang.

Pulau Ular ini terletak di Desa Pai Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, berbatasan langsung dengan Kecamatan Sape. Jarak tempuh dari ibukota Kabupaten berkisar 84 kilometer ke arah timur melewati jalur utara Kecamatan Sape, begitu juga melewati arah utara kecamatan Ambalawi dan Wera.

Jika ditempuh menggunakan sepeda motor jarak rata-rata 60 sampai 80 kilometer/perjam, bisa memakan waktu hingga tiga jam setengah agar sampai ke tempat yang belum banyak tersentuh pembangunan itu.

Saat Sejumlah awak media berkunjung beberapa waktu lalu, masih banyak jalan yang belum teraspal. Signal telepon seluler juga timbul tenggelam ketika memasuki daerah ini. Begitupu dengan fasilitas kesehatan belum memadai.

Warga Desa Pai, Muhidin (47) kepada wartawan, di pantai Pai, saat memandu tim jelajah menyeberang menuju pulau ular, menuturkan cerita turun-temurun yang membuat pulau ini dinamakan Pulau Ular.  

Konon, pulau ini dinamakan demikian karena memang terdapat banyak ular jinak yang diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan ekor jumlahnya. Uniknya, ular yang hidup di pulau ini tidak berbisa, sehingga orang bisa mudah memegangnya. Bahkan dijadikan mainan. Sehingga banyak diantara wisatawan yang berkunjung tak menyia nyiakan kesempatan untuk foto dan selfi dengan ular yang sengaja dilingkari dileher.

“Kadang dikalungkan di leher, dan kalau musim hujan seperti ini, ular-ularnya mudah sekali ditemukan di atas bukit pulau, dan bila matahari terbenam Banyak sekali jumlahnya yang keluar dari lubang dan rongga bebatuan untuk mencari makanan berupa ikan-ikan kecil,” imbuhnya. 

Dikatakannya, ular tersebut tidak bisa dibawa pulang ke luar pulau itu. Kalaupun dibawa, ular-ular tersebut akan tetap kembali ke tempat asalnya. Warga setempat mempercayai, bila ular yang dibawa keluar dari pulaunya, maka bisa mendatangkan bencana dan bahaya buat masyarakat Pai. Karena kepercayaan ini, warga setempat sangat menjaga betul keberadaan ular-ular tersebut.

“Banyak wisatawan lokal yang datang dan singgah sebentar dipulau ular ini, alasannya hanya karena mereka penasaran melihat ular-ular yang jinak. Dari situ terkadang ularnya mau dibawa pulang, namun oleh warga dilarang keras dengan alasan selain menjaga kelestariannya, juga dipercayai mendatangkan musibah,” ujarnya.

Sementara itu, dari beberapa pengunjung salah satunya adalah Haris, Warga Kelurahan Sadia Kota Bima.  Iya merasa lega setelah keinginannya terwujud karena  bisa sampai dan melihat langsung ular jinak di pulau ular.

Diakuinya, selama bertahun tahun hanya bisa mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang keberadaan pulau kecil yang dihuni oleh ribuan ular tersebut. Begitupun  tentang ular yang bisa bertahan di sebuah pulau yang letaknya di lepas pantai, di atas pulau di antara celah-celah bebatuan, atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal.

“melihat ular ular yang begitu jinak, sepertinya serasa di alam mimpi saja. meski capek setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga, namun melihat ular-ular yang sangat lucu, jinak mampu mengobati itu semua. Terlebih ketika bermain-main dan berfoto selfie dengan ular, itu merupakan dokumentasi berharga bagi saya” pintanya

Sebagai pribumi yang tentu merasa bangga dengan adanya potensi wisata seperti pulau ular, haris  berharap pemerintah bisa memperhatikan serius keberadaan Pulau itu. Karena setahunya, pulau yang didiami ular-ular ini, hanya ada di Desa Pai, tidak ada di tempat lain.
Ia pun berkeyakinan, jika tempat ini dikelola dengan baik  bisa menjadi pusat wisata yang sangat diminati oleh wisatawan domestik bahkan mancanegara.

“Tempat ini sangat langka dan bisa jadi satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Kalau pemerintah serius memperhatikan pulau ini, yakin saya akan mampu menyaingi Pulau Komodo yang sudah terkenal terlebih dahulu karena hidupnya di satu pulau juga, persis dengan pulau ular ini,” tuturnya. (R/02)